Kamis, 08 Maret 2018 05:30 WITA

Protes Film Hanung, Putri Bungsu Sri Sultan HB X: Hancur Hatiku

Editor: Abu Asyraf
Protes Film Hanung, Putri Bungsu Sri Sultan HB X: Hancur Hatiku
Gusti Kanjeng Ratu Bendara (kanan).

RAKYATKU.COM - Sutradara film Sultan Agung, Hanung Bramantyo mendapat protes keras dari anggota keluarga Kraton Yogyakarta. Ada adegan yang dianggap menyimpang dari cerita aslinya.

Putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara mengungkapkan kekecewaannya terhadap film tersebut melalui akun Instagram. Ia menilai pakaian atau kain batik yang digunakan oleh pemeran Sultan Agung tidak sesuai dengan pakem yang berlaku di Kraton Yogyakarta. Hal tersebut diungkapkan oleh GKR Bendara melalui akun Instagram pribadinya, @gkrbendara. 

Wanita berusia 31 tahun ini mengunggah salah satu adegan di film 'Sultan Agung' dan memperlihatkan batik yang dikenakan oleh Sultan Agung. Pemeran tersebut mengenakan batik dengan motif Parang kecil dan berwarna biru.

GKR Bendara juga menyoroti kain batik yang dipakai oleh pemeran Abdi dalem di film tersebut yang malah mengenakan batik Parang berukuran besar. 

"Malah yg memerankan Abdi dalem di belakangnya yg pake Parang lbh besar. Iki piye iki piye jal. Check di FB kratonjogja aja ada loh referensinya. Baru minggu lalu sy bicara tentang Parang Barong di Pameran Taman Pintar. Sedih saya lihatnya," lanjutnya sambil mengunggah foto batik yang seharusnya dipakai oleh Sultan Agung di slide berikutnya. 

Kekecewaannya itu membuat wanita yang akrab dipanggil Jeng Reni ini kembali memposting sebuah foto dan menuliskan sebuah keterangan panjang yang menjelaskan pakem penggunaan kain batik yang menunjukkan status keluarga Kraton. Kain batik Parang memang hanya boleh untuk kerabat Kraton dengan ukuran-ukuran yang sudah diatur.

"Rijksblad atau pranatan dalem, tercantum larangan-larangan motif-motif tertentu di dalam Kraton. Pengunaan Parang hanya boleh untuk kerabat Kraton. Yg berukuran 12 cm hanya diperuntukan Raja, yg ber ukuran 8 cm untuk Permaisuri dan yg lebih kecil lagi untuk putri dan Pangeran. Sumber: @kratonjogja," tulisnya. 

Protes GKR Bendara terhadap film garapan Hanung Bramantyo yang melanggar pakem Kraton ini pun langsung menarik perhatian netizen. Banyak dari mereka yang akhirnya menyayangkan Hanung dan tim produksi terutama tim wardrobe yang tidak melakukan riset secara mendalam terkait penggunaan kain batik. 

"@hanungbramantyo kalo mau mengangkat budaya jawa mohon riset dulu, jangan trus motif bagus keliatan trendi n kebetulan batik dibilang ini jogja atau budaya jawa. Motif batik itu ada filosofinya. Membuat film tentang budaya itu SUANGAT BAGUS tapi ya ke depannya coba dibarengi sama riset yg mendalam. Yang kasian nanti klo film itu booming trus pada suka motifnya rame2 cari motif itu padahal motif buat jarik dijadikan baju, misalnya seperti itu," tulis akun @yosisuharno. (Kumparan.com)

Berita Terkait