Sabtu, 03 Maret 2018 06:00 WITA

Cara Membedakan Produk Eiger yang Asli dan Palsu

Editor: Adil Patawai Anar
Cara Membedakan Produk Eiger yang Asli dan Palsu

RAKYATKU.COM - Riset tim produksi Eiger yang dilakukan beberapa tahun lalu menunjukkan, sandal Eiger yang beredar di pasaran 60 persen adalah palsu. Hal ini yang kemudian membuat Eiger perlu jurus tersendiri untuk membendung pemalsuan produk yang semakin masif dilakukan.

Arif Husein, Manager Marketing Communication Eigerindo mengatakan, salah satu cara yang dilakukan pihak Eiger untuk membendung pemalsuan produk adalah dengan membuat teknologi aplikasi yang canggih berupa hologram.

“Kalau beli produk Eiger di label logo itu di bawahnya ada hologram, di situ ada legalitasnya. Hologram ini juga jumlahnya dihitung di kantor melibatkan aparat berwajib. Kalau tiba-tiba di pasaran jumlahnya tinggi dan enggak sesuai dengan jumlah produksi kita, itu berarti pihak kita yang korup. Tapi rupanya beberapa tahun belakangan ini hologram pun sudah bisa ditiru. Orang Indonesia ini hebat sekali,” ungkap Arif.

Arif mengatakan, langkah kedua yang dilakukan pihak untuk membendung pemalsuan adalah dengan melakukan redesain per enam bulan sampai satu tahun.

loading...

“Itu bisa bikin pemalsu kesulitasn untuk ngikutin, karena baru lagi baru lagi. Edukasinya adalah kita melalui media sosial kita terus sampaikan cara-cara membedakan yang palsu. Karena banyak juga yang komplen ke kita tapi produknya yang beli itu palsu,” kata Arif dilansir liputan6.com.

Eiger Outride Series didesain untuk berkendara di wilayah dengan kelembaban udara yang cukup tinggi.
Bagi Anda yang ingin membeli produk Eiger yang asli cara membedakan yang produk asli dan palsu yaitu dengan melihat hologram, di dalamnya ada kode pembuatan tahun berapa dan kode di line produksi apa.

“Jadi kalau baru beli ada yang rusak bisa dideteksi, kerusakannya apa dari line produksi apa. Kita ada garansi, untuk tas sendiniri itu ada garansi penggantian material sampai ganti baru, dengan catatan kerusakannya adalah karena kesalahan produksi,” ungkap Arif menambahkan.

Loading...
Loading...