Rabu, 14 Februari 2018 10:25 WITA

Sejarah Kelam Hari Valentine, Dimulai dengan Kematian

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Sejarah Kelam Hari Valentine, Dimulai dengan Kematian
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Masih ada sebagian besar anak muda yang menganggap hari valentine atau hari kasih sayang adalah hari yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, untuk memilih pasangan, untuk melakukan ritual romantis bareng pasangan dan lain sebagainya. 

Namun nyatanya, apa yang terjadi saat ini justru berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dahulu kala. Beberapa sejarawan menelusuri asal-usul Hari Valentine di zaman Kekaisaran Romawi kuno. 

Pada masa itu, orang-orang memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari libur guna menghormati Juno yang merupakan Ratu Mitologis Dewa-Dewi Romawi. Orang Romawi juga menganggap Juno sebagai Dewi Perkawinan. 

1. Dulu, perayaan valentine baru dimulai tanggal 15

Malah keesokan harinya, 15 Februari, diadakan sebuah perayaan bernama Festival Lupercalia yang umum disebut dengan festival kesuburan. Perayaannya sendiri sungguh beragam, ada yang mengatakan bahwa di perayaan ini semua wanita akan memasukan namanya ke dalam tempat dan akan dipilih oleh pria secara acak dan nama yang dipilih adalah jodohnya. 

Gampangnya, Lupercalia sendiri adalah momen untuk menyucikan kota dari roh jahat, melepaskan kesehatan dan mencegah kemandulan. Asal kata Lupercalia sendiri bukan dari bahasa Latin sehingga ini membuktikan bahwa festival ini lebih tua dari kekairasan Romawi sendiri.

Saat ini, tanggal 15 Februari justru sudah tidak ada lagi perayaan jenis apapun. Hanya tanggal 14-nya saja dirayakan sebagai hari kasih sayang yang diperingati dengan membagi kasih sayang dengan orang-orang terkasih.

Perkembangan zaman memang membawa begitu banyak perubahan. Apalagi ini bukan cuma tentang peringatan sebuah hari, tapi juga tradisi dan adat yang pastinya semua belahan bumi memiliki pandangannya masing-masing.

2. Kebingungan yang timbul karena sosok bernama Valentine

Sudah banyak perdebatan yang sebenarnya masih samar dan belum tahu mana yang benar tentang sosok yang namanya diperingati sebagai hari kasih sayang seluruh dunia ini. Legenda tersebut bermula dari tiga sosok bernama Valentine yang ketiganya meninggal dengan cara yang tidak lazim; Dipenggal, disiksa dan dieksekusi mati. 

Mungkin yang tidak asing dari orang awam adalah cerita seorang pastor bernama Santo Valentino yang menikahkan pasangan muda yang saling mencintai secara diam-diam dan kemudian mati dengan cara dipenggal. Namun ada pula kedua sosok lain bernama Valentine yang juga mati tanggal 14 Februari dengan cara yang mengenaskan. 

Saat ini, hal tersebut sudah tidak banyak lagi dibicarakan. Rata-rata orang hanya merayakan esensinya saja. Bahwa sebelum mereka mati, mereka telah menciptakan cinta itu sendiri di kehidupan orang di sekitarnya.

3. Perubahan pandangan orang tentang hari kasih sayang

Kalau dulu, pada zaman Romawi kuno, merayakan hari kasih sayang adalah guna membersihkan kota dari segala macam kesialan dan kutukan. Perayaannya juga disadari dengan pengingatkan kematian St. Valentine yang meninggal dengan tragis.

Namun saat ini sudah tidak seperti itu. Perkembangan zaman, budaya, agama dan tradisi menciptakan esensi yang berbeda di tiap belahan bumi. Kalau di Indonesia sendiri, hari kasih sayang adalah hari dimana kita bisa berbagi kasih dengan orang tercinta dengan memberikan hadiah. Tidak ada pengingat akan sejarah tertentu maupun ritual pembersihan kota.

Dilansir Idntimes, terlepas dari banyaknya legenda, sejarah, perayaan, tradisi yang ada tentang hari kasih sayang ini, kita tentu tidak bisa menebak mana yang paling bisa dianggap benar. 

Mau bagaimanapun, setiap orang pasti punya pandangan sendiri yang nantinya diaplikasikan ke dalam eksekusi yang berbeda-beda juga. Semua itu adalah ekspresi pengungkapan rasa syukur terhadap orang-orang yang dikasihi.