Selasa, 07 Juni 2016 15:13 WITA

Ini Hukum Berhubungan Intim Saat Ramadan

Penulis: Al Khoriah Etiek Nugraha
Editor: Vkar Sammana
Ini Hukum Berhubungan Intim Saat Ramadan

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Setelah melaksanakan ijab kabul, maka hubungan bersetubuh halal hukumnya, baik dilakukan di malam hari ataupun siang hari. Namun, berbeda saat bulan Ramadan, dimana umat muslim harus menjalankan puasa dan menahan nafsunya.

Ust Usman Jasad menjelaskan, pada bulan ramadan, hubungan intim antara suami da istri hukumnya mubah, atau di bolehkan. Namun pada siang hari, ketika berpuasa maka hukum bersetubuh menjadi haram.

"Saat bulan ramadan, haram hukumnya melakukan hubungan suami istri di siang hari. Memang halal melakukan hubungan intim setelah ijab kabul, tetapi saat puasa ramadan itu menjadi haram jika dilakukan pada siang hari," tegas Ust Usman Jasad

Hal tersebut dijelaskan dalam alquran, dalam Qs Al Baqarah ayat 187, yang artinya "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam."

Disamping itu, lanjut pria yang kerap disapa Ujas ini, jika terjadi persetubuhan tanpa adanya paksaan, maka berat hukuman yang harus di jalani. Yakni dengan melaksanakan Kaffarah.

"Hukumnya sangat berat jika melakukannya di siang hati saat Ramadan. Karena mereka harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut," kata Ujas.

loading...

Dalil tersebut diambil dari hadis riwayat Abu Hurairah, berkata : Tatkala kami duduk disisi Nabi tiba-tiba datang kepadanya seorang laki-laki, dan dia berkata "Wahai Rasulullah binasa aku", maka Beliau bertanya "kenapa engkau?", orang itu menjawab "Aku telah menyetubuhi istriku, padahal aku berpuasa", dalam sebuah riwayah "Aku menyetubuhi keluargaku di bulan Ramadhan", maka Rasulullah bersabda "Apakah engkau mendapatkan seeorang budak yang engkau bisa membebaskannya ?", maka orang ini menjawab "Tidak ada", Rasulullah bersabda "Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan secara berturut-turut?", maka orang ini menjawab "Tidak", Rasulullan bersabda "Apakah engkau mendapatkan pemberian makan kepada 60 orang miskin ?", maka orang ini menjawab "Tidak".

Berkata Abu Hurairah "maka Nabi terdiam", maka tatkala kami dalam keadaan yang demikian itu tiba-tiba didatangkan kepada Nabi dengan sebuah kantong (kantong yang terbuat dari pelepah kurma seukuran masuk didalamnya 15 sha’ dari sesuatu) yang padanya terdapat kurma. Kemudia Nabi bertanya "Mana orang yang bertanya tadi ?", maka orang ini menjawab "Aku", maka Nabi berkata "Ambillah ini lalu bersedekahlah dengannya", orang ini berkata "Apakah atas orang yang lebih faqir daripadaku wahai Rasulullah?, maka demi Allah tidak ada diantara dua kampungnya sebuah keluarga yang lebih faqir daripada keluargaku", maka Nabi tertawa sampai terlihat gigi saingnya, kemudian Beliau bersabda "Berikanlah dia kepada keluargamu".

Namun, dalam pembayaran Kaffarah ini terdapat dua pendapat pada pihak perempuan. Sebagian ulama berpendapat sang perempuan tidak wajib membayat Kaffarah, sedangkan sebagian lagi mewajibkan. Menurut mantan Wakil Dekan III UIN Alauddin ini, kedua pendapat bisa diambil.

"Untuk pihak perempuannya. Memang terdapat dua pendapat. Ada yang menyatakan harus melaksanakan kaffarah ada pula yang tidak. Ini dua-duanya bisa diambil," pungkas Ujas. 
 

Loading...
Loading...