Sabtu, 02 Desember 2017 07:00 WITA

"Mau Bekerja atau Mengurus Warna Rambut?"

Editor: Almaliki

RAKYATKU.COM - Penampilan menjadi faktor lain yang berperan penting dalam membangun citra seorang wanita karier, seperti penelitian Jaclyn Wong, profesor sosiologi di Univesitas Chicago, AS.

Disebutkan, wanita karier disarankan memperhatikan penampilan demi penghasilan lebih tinggi. Tetaoi ingat, penampilan terlalu atraktif bisa memunculkan kesan kurang kompeten dalam pekerjaan.

Seperti yang dilakukan seorang CEO wanita di Silicon Valley, Eileen Carey. Ia mempertahankan kacamata, dan menggelapkan warna rambut (yang aslinya pirang). Kepada stasiun televisi BBC, Carey mengakui ini dilakukannya agar “dianggap serius” oleh para koleganya.

Menurut Traci Sitzman, profesor manajemen di Universitas Colorado, Denver, AS, hal simpel seperti warna rambut, bisa membuat perbedaan dalam bagaimana wanita akan dipandang di tempat kerja.

“Kita semua punya persepsi tentang wanita berambut cokelat atau wanita berambut pirang. Masalahnya, (sebenarnya) kita menginginkan mereka bekerja dan meningkatkan karier dalam organisasi, bukan duduk dan mengurus warna rambut mereka,” kata Sitzman.

Maka pekerja aktraktif menurut Wong ditentukan dalam dua aspek. Pertama, penampilan alami, misalnya bentuk tubuh ideal dan wajah yang simetris. Kedua, penampilan yang diciptakan sendiri, misalnya riasan wajah, busana, dan warna rambut.

Dalam penelitian Wong, faktor kedualah yang paling memberikan perbedaan besar. Ia menyimpulkan, wanita yang tampil atraktif karena faktor buatan manusia, yakni riasan, warna dan tata rambut, serta pilihan busana, cenderung mendorong orang lain nyinyir. 

Persepsi ini bisa berbeda pada wanita dalam tingkatan karier berbeda. Penampilan atraktif memberi keuntungan lebih di tahap awal karier. Namun ketika mereka sudah memasuki jabatan lebih lanjut, penilaian itu berubah. 

“Begitu wanita memasuki jabatan manajerial, posisi pemimpin, posisi yang berkuasa, kecantikan dan penampilan (yang berlebihan) menjadi kekurangan, karena stereotip, wanita cantik tidak kompatibel dengan pekerjaan. Jadi jika Anda tampil terlalu cantik, mungkin Anda tidak kompeten. Mungkin Anda tidak terlalu pintar. (Penilaian berdasarkan penampilan) itu lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria,” urai Wong.