Selasa, 28 November 2017 11:40 WITA

Membedah Kikujiro dan Sinema Jepang Lewat Riri Riza

Editor: Almaliki
Membedah Kikujiro dan Sinema Jepang Lewat Riri Riza
Film Kikujiro

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Di ruang lotre tempat balap sepeda berlangsung, wajah Masao terlihat murung. Uang hasil tabungannya yang seharusnya digunakan untuk biaya perjalanan untuk menemui ibunya, habis begitu saja. Dan yang palling menambah kesedihan Masao, ialah sejak balita ia ditinggalkan ibunya. Tak sekalipun ia pernah berbicara dengan wanita yang melahirkannya tersebut. Ini semua dikarenakan Kikujiro.

Pria slengean itu, yang tanpa sengaja ditugaskan untuk mengantar Masao. Masao tak bisa berkutik saat Kikujiro meminta uangnya untuk taruhan di lomba balap sepeda. Kikujiro yang berwatak kasar dan antipati ini, membuat Masao hanya bisa tunduk saat ia memasang taruhan. Taruhan pun tak dimenangkan, uang raib begitu saja, dan impian Masao untuk bertemu ibunya pupus saat itu juga.

Cerita di atas merupakan cuplikan film dari Kikujiro (1996) arahan sutradara asal Jepang, Takeshi Kitano. Mungkin di Indonesia, Takeshi Kitano lebih dikenal sebagai raja dalam acara tv Benteng Takeshi. Takeshi hanyalah satu dari beberapa sutradara ngetop Jepang. Karya-karyanya dibicarakan di dunia internasional. 

Jejak Takeshi ini sama seperti sutradara Jepang lainnya seperti Kenji Mizoguchi, Yasujiro Ozu, Akira Kurosawa, Hirokozu Koreeda, sampai yang paling anyar Koji Fukada. Sinema Jepang, bagaimanapun memiliki kekhasan yang berbeda dibanding film-film hollywood ataupun negara lainnya. Lantas apakah kekhasan yang ditampilkan dalam sinema-sinema Jepang? Apa yang membedakan sinema Jepang dengan sinema-sinema dari belahan dunia yang lain?

Dalam hal inim  Riri Riza, salah satu sutradara papan atas Indonesia, mengatakan bahwa sulit untuk menspesifikkan keunikan film-film produksi asal Jepang, baik itu animasi ataupun non-animasi. Menurutnya, setiap sutradara Jepang memiliki cara yang berbeda-beda dalam meramu sebuah film. Tetapi justru dengan serangkaian jenis film yang ada di Jepang, kita bisa tahu keunikannya. 

Memang, jika berbicara hal simbolis, mungkin saja dalam pikiran kita terlintas produk budaya populer Jepang seperti samurai, pakaian kimono sampai peran Geisha (sering digunakan di film-film Akira Kurosawa), tetapi serangkaian produk itu tidak menandakan substansi dari sinema Jepang. Tengok saja di film Branded to Kill atau film-film violence Takeshi Kitano. Kita bahkan tidak menemukan samurai dan produk budaya Jepang yang populer lainnya.

"Jepang itu punya kebanggan budaya yang kuat. Budaya itu dalam artian misalnya hubungan keluarga yang ada kompleksnya ya, tidak hanya harmonis-harmonis saja. Dan itu dihargai di dalam film-film Jepang. Jadi saya pikir kita bisa sekali melihat itu sebagai sebuah karakter. Seperti tadi saya katakan, misalnya di film Jepang itu, dikenal budaya animasi yang kental. Sangat khas, estetikanya itu berbeda," tutur Riri Riza yang ditemui saat pembukaan Japanese Film Festival di Makassar lalu.

"Jadi apa ya, Jepang itu punya kekuatan yang khas, unik. Jadi nggak bisa saya diminta spesifiknya (keunikan) karena setiap sutradara beda. Cara membaca film itu memang tidak bisa sederhana, tetapi justru melihat serangkaian film yang ada di Jepang. Jepang itu punya kekuatan budaya yang tinggi,"imbuhnya.

Untuk mengetahui ciri khas yang ditampilkan dalam sinema jepang, Alaistars Philips dan Julian Stringer dalam bukunya Japanese Cinema: Text and Context (2007), mengatakan bahwa sinema Jepang bersama dengan sinema Perancis, lebih mengutamakan aspek estetika dalam filmnya. 

Industri perfilman Jepang bisa dibilang adalah penantang utama hegemoni industri perfilman hollywood, dalam merajai pasar internasional. Tetapi bukannya memilih sejalan dengan produk-produk yang dihasilkan oleh hollywood, para sutradara Jepang lebih memilih menghasilkan film yang sangat menonjolkan film sebagai sebuah kesenian.

Sebagai contoh, sinematografi yang ditampilkan Ozu dalam filmnya Ohayu (1954) bisa menjadi represantasi dari penjelasan Alaistars Philips dan Julian Stringer di atas. Belum lagi animasi dari Jepang yang berbeda dari animasi negara-negara lain, bisa dikatakan sinema animasi Jepang memang sangat artistik. Sebut saja karya-karya Hayao Miazaki dalam Spritted Away, My Neigbor Totoro, hingga film-film animasi seperti Akira, Ghost in The Shell, ataupun Cowboy Bebop (di Jepang disebut anime).

Hingga sekarang ini, industri perfilman Jepang selalu mendapatkan tempat di beberapa festival-festival Internasional. Yang paling baru, film Koji Fukada yaitu Harmonium berhasil menang dalam ajang festival Cannes kategori Uncertain Regard (Cannes sering disebut-sebut festival film paling bergengsi di dunia). Film ini sejatinya bergenre drama. Namun, struktur cerita yang kuat, membuat film ini bisa memainkan emosi kita. 

Riri Riza pun menerangkan kepada penulis, bahwa film ini memang punya cerita keluarga yang tidak biasa. Berbeda dengan drama-drama yang dihasilkan Ozu ataupun Koreeda, Harmonium bisa dibilang drama kelam, kebalikan dari dua sutradara Jepang yang terkenal dengan genre drama.

Untuk itu, Riri, mengatakan bahwa film ini lebih ke Atmospheric Drama. Dan beruntung, Harmonium telah diputar dalam festival film Jepang yang beberapa saat lalu terlaksana di Makassar.

Tags