10 August 2017 08:00 WITA

Perempuan Lebih Banyak Berpikir dari Pria

Editor: Andi Chaerul Fadli
Perempuan Lebih Banyak Berpikir dari Pria
ilustrasi

RAKYATKU.COM - Perempuan lebih banyak berpikir dari laki-laki kini tak sekadar hipotesa belaka. Ada hasil survei pencitraan otak terbesar yang pernah dilakukan membuktikan hal itu.

Para periset di Amen Clinics California menyimpulkan, otak perempuan secara signifikan lebih aktif daripada laki-laki. Hal itu diperoleh dari analisis data terhadap 45.000 lebih hasil penelitian terkait.

Selain itu, aliran darah jauh lebih tinggi di banyak bagian otak perempuan dibandingkan laki-laki. Sehingga dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk fokus dan berempati, namun rentan cemas.

Subjek penelitian termasuk 119 sukarelawan sehat dan 26.683 pasien dengan berbagai kondisi kejiwaan seperti trauma otak, gangguan bipolar, gangguan mood, skizofrenia atau gangguan psikotik, dan ADHD. Secara total, 128 daerah otak dianalisis terlebih dahulu saat peserta beristirahat dan dilanjutkan saat melakukan tugas konsentrasi.

Penelitian menyebutkan bahwa temuannya itu dapat digunakan untuk menyelesaikan beberapa argumen yang biasa terjadi pada pasangan. Para ilmuwan bahkan menambahkan, temuannya menawarkan wawasan penting mengapa kelainan otak tertentu lebih sering terjadi pada perempuan seperti Alzheimer dan ADHD pada laki-laki. 

Otak perempuan ditemukan jauh lebih aktif daripada laki-laki, terutama pada dua wilayah yaitu korteks prefrontal yang terkait dengan kontrol fokus dan impuls, dan sistem limbik, yang dikaitkan dengan suasana hati dan kecemasan. Sementara untuk laki-laki, bagian otak yang lebih aktif khususnya ada pada pusat penglihatan dan koordinasi otak.

Ini juga sebuah penjelasan mengapa perempuan cenderung menunjukkan kekuatan yang lebih besar di bidang empati, intuisi, kolaborasi, pengendalian diri dan perhatian yang tepat. Peneliti juga dapat menjelaskan peningkatan kerentanan perempuan terhadap kecemasan, depresi, insomnia dan gangguan makan.

Penelitian dilakukan dengan melihat studi pencitraan tomografi emisi foton emisi tunggal atau SPECT. "Ini adalah studi yang sangat penting untuk membantu memahami perbedaan otak berbasis gender," kata penulis utama dan pendiri Amen Clinics Inc, Dr Daniel G Amen.

"Perbedaan kuantitatif yang kami identifikasi antara laki-laki dan perempuan penting untuk memahami risiko berbasis gender untuk gangguan otak seperti penyakit Alzheimer. Menggunakan alat neuroimaging fungsional, seperti SPECT, sangat penting untuk mengembangkan pengobatan otak presisi di masa depan," tambahnya.