Senin, 01 Oktober 2018 05:30 WITA

Enam Tips Meredakan Amarah Menurut Islam

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Enam Tips Meredakan Amarah Menurut Islam

RAKYATKU.COM - Marah merupakan bawaan manusia. Akan tetapi, seseorang muslim yang senantiasa berhubungan dengan Allah SWT, akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak meluapkan kemarahannya

Hal tersebut dilakukan dengan cara menjauhi semua perkara yang dapat menimbulkan kemarahan dan berusaha meredam amarah tersebut jika kemarahan itu muncul.

Dalam sebuah hadis, Abu Hurairah menceritakan seseorang yang meminta nasihat kepada Rasulullah. Hadis tersebut terdapat dalam kitab Arbain An Nawawiyyah.

"Sesungguhnya seorang laki-laki meminta nasihat kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW mengatakan, 'janganlah marah' Lalu laki-laki tersebut mengulang permintaannya dan Rasulullah SAW tetap mengatakan, 'janganlah marah"

Dalam kitab Al-Wafi fi Syahril Arba’in An-Nawawiyah disebutkan, mencegah atau meredam kemarahan bisa dilakukan dengan banyak cara yang telah diajarkan oleh Islam. Dilansir laman Harakahislamiyah, beberapa diantaranya adalah:

1. Melatih jiwa dengan berbagai akhlak terpuji, seperti Sabar, lemah lembut, tidak tergesa-gesa dalam segala hal, dan lain sebagainya. 

Pernah suatu ketika Rasulullah SAW didatangi Zaid bin Sa’nah yang saat itu belum memeluk Islam. Ia mendatangi Rasulullah SAW untuk menagih hutang yang belum jatuh tempo. Zaid melakukannya dengan sikap yang sangat kasar. Namun beliau menghadapinya dengan senyum dan sabar. 

Bahkan beliau melarang Umar RA. untuk menghardik laki-laki tersebut, seraya berkata, “Hai Umar, aku dan dia tidak membutuhkan sikap seperti itu. Lebih baik kamu menyuruh ku melunasi hutangku, dan menyuruhnya menagih hutang dengan baik.”

Setelah itu beliau melunasi hutangnya, bahkan jumlahnya melebihi hutangnya semula, sebagai imbalan dari hardikan yang diterimanya dari Umar RA. Akhirnya, sikap Rasulullah SAW ini menjadi penyebab masuknya Zaid bin Sa’nah ke dalam Islam.

2. Mengingat-ingat dampak yang ditimbulkan dari marah, keutamaan meredam amarah dan keutamaan memaafkan orang yang berbuat salah. 

Allah SWT. Berfirman: “Dan orang yang bisa meredam amarah dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berlaku ihsan.” (Ali’Imran : 134).

Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda. “Barangsiapa yang menahan amarah dan ia sebenarnya mampu untuk melupakannya. Maka pada hari kiamat kelak, ia akan dipanggil Allah dihadapan semua makhluk-nya, lalu ia disuruh memilih bidadari yang ia inginkan.”

3. Ber-ta’awudz (mengucapkan Audzu billahi minasyaithonirrojiim/aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk).

Allah SWT berfirman, "Dan jika engkau ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200).

4. Mengubah Posisi

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah dan dia berdiri, maka duduklah, karena kemarahan akan hilang. Jika belum juga hilang maka berbaringlah.” 

Hal ini dikarenakan posisi berdiri lebih mudah untuk meluapkan dendam, lain halnya dengan duduk ataupun berbaring.

5. Berhenti bicara

Karena dengan berbicara, sangat mungkin kemarahannya bertambah, atau ia mengucapkan perkataan yang akan ia sesali setelah kemarahannya reda.

6. Berwudhu

Karena pada dasarnya, kemarahan adalah api yang membara dalam diri manusia, maka air akan memadamkan api tersebut. Wudhu juga merupakan ibadah dalam rangka dzikrullah (mengingat Allah swt.), yang membuat setan yang sedang menyalakan api amarah pada diri seseorang, lari dan bersembunyi.