Minggu, 20 Mei 2018 23:45 WITA

Sutradara Beberkan Alasan Pembuatan Film Coto vs Konro

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Sutradara Beberkan Alasan Pembuatan Film Coto vs Konro

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Film yang mengangkat tema kuliner tradisional di Makassar dipastikan akan diproduksi pada tahun ini. Film tersebut berjudul Coto vs Konro yang disutradarai Irham Acho Bachtiar (sutradara Molulo).

Dalam beberapa kesempatan, sutradara Irham Acho Bachtiar menjelaskan dimulai ide film ini tercipta hingga harapannya jika film ini sudah selesai diproduksi. Ada enam pertanyaan wartawan yang dijawab oleh sutradara, Irham Acho Bachtiar terkait film bergenre komedi ini. 

1. Dari mana ide tentang judul yang mengangkat kuliner khas Makassar ini ?

Sutradara: Idenya berasal dari kejadian sehari-hari yang dekat dengan masyarakat di kota Makassar. Saya suka mengangkat hal-hal yang sederhana sehari-hari. Tidak perlu jauh-jauh banyak kejadian unik disekitar kita yang bisa diangkat ke film.

Tidak perlu jauh-jauh membuat cerita yang kita tidak kuasai. Kisah kisah tentang coto dan konro adalah makanan yg sehari hari dekat dengab masyarakat Sulsel. Apalagi saya mulai jenuh dengan film film yg temanya tentang cinta melulu. Kali ini saya bikin tema komedi keluarga yg bisa ditonton oleh semua umur. Siapa yang tidak kenal coto dan konro? Sudah mendunia kuliner ini. 

2. Apa inti dari cerita film tersebut ?

Sutradara: Inti dari cerita film ini adalah tentang bagaimana kita menghargai budaya leluhur sebagai warisan yang harus kita jaga. Tentunya adapula pesan-pesan tentang keberagaman di dalamnya serta nilai kearifan lokal bahwa terkadang pertikaian sesama anak bangsa sesungguhnya tak perlu terjadi karena haikikatnya meskipun coto dan konro berbeda bentuk dan penyajiannya, tetapi bahan dasarnya tetap sama yakni daging juga kan?

3. Siapa tokoh yang menjadi pemeran utama dan alasan dipilihnya?

Sutradara: Saya memilih Luthfi Sato (Molulo jodoh tak bisa dipaksa) sebagai Haji Matto pemilik coto dan Awaluddin Tahir (uang panai) sebagai Daeng Sangkala pemilik konro yang menjadi pemeran utama di film ini adalah karena saya menilai 2 orang inilah yang paling cocok secara karakter dan aktingnya menurut saya bagus di film mereka sebelumnya.

Mungkin yang berbeda adalah jika selama ini film film menempatkan anak muda sebagai tokoh utamanya tapi kalin adalah orang tua. Selain itu ada pula komedian-komedian dari timur seperti Zakakribo, Musdalifah, Epen Cupen dll. Ada juga 2 bintang remaja yakni Aditya dan Neelam Amir semuanya asli anak Makassar.

4. Ini menjadi film yang ke berapa di sutradarai ?

Sutradara: Kalau tidak salah ini menjadi film ke 13 saya setelah sebelumnya baru saja menyelesaikan syuting film Molulo 2 jodohku yang mana juga syuting di Makassar.

5. Apa ini termasuk film lokal atau nasional? Bisa beri alasan perihal kategori film daerah dan film nasional?

Sutradara: Saya kurang setuju dengan pengkotak-kotakan istilah film daerah dan nasional. Menurut saya ini adalah film yang akan diputar dimana saja bukan hanya di nasional kalau perlu internasional juga. Saya anak Makassar tapi saya berkarier di Jakarta.

Apakah saya disebut sutradara daerah atau nasional? Kita perlu mengubah mindset bahwa indonesia bukan hanya pulau Jawa saja. Jadi film bisa dibuat di daerah mana saja tidak selalu harus di pulau Jawa dan itu disebut film Indonesia bukan film daerah. Mungkin lebih tepatnya film Indonesia yang berbahasa daerah. Di film Coto vs Konro ini ada berbagai macam suku di dalamnya mulai dari Makassar, Palu, Kendari, Manado, Papua, Tionghoa, dll.

6. Apa ada yang mau ditambahkan ?

Sutradara: Film Coto vs Konro mengajarkan tentang filosofi yang terkandung dalam kuliner khas makassar dan ini akan menjadi sebuah film drama komedi keluarga yang bisa ditonton semua umur dan pastinya akan mengingatkan semua orang Makassar di perantauan untuk rindu dengan makanan khasnya. Ada lucu, sedih, tegang, semuanya lengkap.